Marsius Sitohang : Maestro Musik Batak, Dosen Luar Biasa USU
Medan - Lintas Publik, Marsius Sitohang merupakan salah satu maestro seni tradisional Batak Toba yang perjalanan hidupnya menjadi kisah inspiratif dalam pelestarian budaya. Lahir di Kampung Palipi, Pulau Samosir, pada 1 April 1953, Marsius dikenal sebagai pemusik tradisional yang menguasai sejumlah instrumen Batak Toba dan pernah dipercaya menjadi dosen luar biasa pada Jurusan Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU).
BACA JUGA Guru Guntur Sitohang Maestro Budaya Batak dari Samosir : Dari OPERA Hingga Gondang Sabangunan
BACA JUGA Guru Guntur Sitohang Maestro Budaya Batak dari Samosir : Dari OPERA Hingga Gondang Sabangunan
Keistimewaan perjalanan Marsius terletak pada latar belakang pendidikannya. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan formal hingga kelas 2 Sekolah Dasar. Keterbatasan pendidikan tersebut tidak menghalanginya mendalami musik tradisional secara otodidak hingga kemampuannya mendapat pengakuan dari kalangan akademisi dan masyarakat luas.
Sejak kecil, Marsius sudah dekat dengan dunia musik. Ketika berusia sekitar 10 tahun, ia mulai bergabung dengan grup opera tradisional. Saat menggembalakan kerbau, ia terbiasa memainkan seruling. Dari kebiasaan sederhana tersebut, kecintaannya terhadap musik Batak terus tumbuh dan menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Kondisi ekonomi kemudian membuat Marsius merantau ke Medan. Ia sempat bekerja sebagai pengayuh becak selama sekitar satu tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Meski harus menjalani pekerjaan keras, kecintaannya terhadap musik tradisional tidak pernah ditinggalkan.
Perjalanan kariernya memasuki babak penting pada 1985 ketika Marsius bersama sejumlah pemusik tradisional tampil dalam seminar musik tradisional Batak di Taman Budaya Medan. Penampilannya menarik perhatian Rizaldi Siagian, akademisi dan tokoh etnomusikologi USU.
Kemampuan Marsius memainkan musik tradisional Batak membuat Rizaldi melihat adanya keahlian yang sangat berharga untuk dunia pendidikan. Marsius kemudian ditawari mengajar praktik musik di Jurusan Etnomusikologi USU dan pengangkatannya sebagai dosen praktik dilakukan melalui Surat Keputusan Rektor USU.
Di lingkungan akademik, Marsius tidak hanya mengajarkan teknik memainkan alat musik. Ia juga menjadi penghubung antara pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dengan proses pembelajaran mahasiswa etnomusikologi.
Marsius dikenal menguasai berbagai instrumen musik Batak Toba, antara lain sulim, taganing, sarune, ogung, dan hasapi. Di tangannya, alat musik tersebut bukan sekadar menghasilkan bunyi, tetapi menjadi media untuk memperkenalkan identitas, sejarah, dan nilai budaya masyarakat Batak.
Keahliannya bahkan membawanya tampil di berbagai negara di empat benua. Namanya juga pernah mendapat perhatian media internasional. The New York Times pada November 1991 pernah memuat penampilan Marsius bersama pemusik lainnya dalam konteks pertunjukan musik tradisional.
Pengakuan terhadap dedikasinya semakin kuat ketika Marsius menerima penghargaan Maestro Seni Tradisi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 2013. Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap konsistensinya menjaga keberlangsungan seni tradisional Indonesia.
Tidak berhenti di dunia kampus dan panggung pertunjukan, Marsius juga memiliki kepedulian terhadap pengembangan bakat musik di kalangan penyandang tunarungu. Ia bersedia memberikan pengajaran kepada mereka yang telah memiliki dasar dan ketertarikan terhadap musik.
Bagi Marsius, keterbatasan seseorang bukan alasan untuk menghentikan kesempatan belajar. Ia percaya bakat harus dikembangkan selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar.
Pengabdian Marsius terhadap musik tradisional juga dilandasi kekhawatiran terhadap semakin berkurangnya generasi muda yang mempelajari budaya Batak. Ia berharap anak-anak muda semakin tertarik mengenal dan memainkan alat musik tradisional agar warisan leluhur tersebut tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Salah satu cita-cita yang pernah disampaikannya adalah mendirikan sanggar sebagai tempat berkumpul dan belajar generasi muda. Di tempat tersebut, ia ingin anak-anak muda dapat mempelajari musik tradisional Batak secara rutin tanpa harus terbebani biaya.
Kisah Marsius Sitohang memperlihatkan bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya ukuran seseorang dalam menguasai ilmu dan keterampilan. Dengan ketekunan, pengalaman, serta kecintaan terhadap budaya, seorang anak dari Palipi yang hanya menempuh pendidikan hingga kelas 2 SD mampu dikenal sebagai maestro musik tradisional Batak dan turut berbagi pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan orang-orang yang bersedia menjaga pengetahuan tradisional agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Profil Singkat Marsius Sitohang:
- Nama: Marsius Sitohang
- Lahir: 1 April 1953
- Asal: Palipi, Samosir
- Pendidikan formal: hingga kelas 2 SD
- Mulai bergabung dengan grup opera: sekitar usia 10 tahun
- Pernah bekerja sebagai pengayuh becak di Medan
- Mengajar praktik Etnomusikologi USU sejak 1985
- Keahlian: sulim, taganing, sarune, ogung, hasapi dan instrumen tradisional Batak lainnya
- Penghargaan: Maestro Seni Tradisi, 2013
Kisah hidup Marsius Sitohang menjadi salah satu contoh kuat bagaimana kecintaan terhadap budaya dapat mengantarkan seseorang melewati berbagai keterbatasan. Warisan musik Batak Toba yang dijaganya bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Batak, tetapi juga bagian dari kekayaan seni tradisional Indonesia. (red/tam/berbagai sumber)






Tidak ada komentar