Header Ads


Guru Guntur Sitohang Maestro Budaya Batak dari Samosir : Dari OPERA Hingga Gondang Sabangunan

Samosir - Lintas Publik, Nama Guntur Sitohang, yang lebih dikenal sebagai Guru Guntur Sitohang, merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan musik tradisional Batak Toba. Ia dikenal bukan hanya sebagai pemusik Gondang Batak, tetapi juga sebagai guru seni, pembuat alat musik tradisional, budayawan, sekaligus sosok yang konsisten memperjuangkan pelestarian kebudayaan Batak Toba.

BACA JUGA   Rumah Sakit Berusia Seabad, Ini Sosok dr. Djasamen Saragih Putra Pertama Simalungun Bergelar Dokter
 

Kolase Guru Guntur Sitohang/ist
 Guntur Sitohang lahir di Desa Urat, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, pada 19 Desember 1936. Ia meninggal dunia pada 11 Juni 2017 dalam usia 81 tahun. Hingga akhir hayatnya, namanya tetap dikenang sebagai salah satu maestro musik tradisional Batak yang memiliki pengaruh besar terhadap generasi penerus.

Berbagai kajian mengenai Guntur Sitohang mencatat bahwa kemampuannya dalam bermusik dan membuat alat musik berkembang terutama melalui pengalaman, pengamatan dan proses belajar secara otodidak. Ia tidak menempuh pendidikan musik formal, tetapi kemampuannya menguasai berbagai instrumen tradisional Batak Toba membuatnya dihormati oleh kalangan seniman maupun akademisi etnomusikologi.

Masa Kecil Guntur Sitohang

Guntur Sitohang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, putra pasangan B. Sitohang dan S. Simbolon. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di kawasan Samosir yang kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan Danau Toba, pertanian, pendidikan dan kebudayaan Batak.

Sejak kecil, Guntur telah menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap musik tradisional. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi kemampuan yang luar biasa.

Instrumen pertama yang dipelajarinya adalah garantung. Awalnya ia belajar dengan cara melihat dan mencoba sendiri. Dukungan keluarga, terutama dari pamannya yang juga berkecimpung dalam Opera Batak, semakin memperkuat kecintaannya terhadap musik.

Dari garantung, Guntur kemudian mempelajari berbagai instrumen lain seperti sulim, hasapi, sarune etek, taganing dan sejumlah alat musik tradisional Batak Toba lainnya. Kemampuan tersebut diperolehnya melalui proses panjang, pengalaman langsung dan ketekunan.

Pendidikan dan Perjalanan Menjadi Guru

Guntur termasuk terlambat memasuki pendidikan formal. Ia kemudian bersekolah di Sekolah Rakyat di Harian Boho dan melanjutkan pendidikan guru.

Perjalanan pendidikannya sempat mengalami gangguan pada masa pergolakan PRRI. Setelah masa tersebut berakhir, Guntur kembali menyelesaikan pendidikannya dan kemudian menjalani profesi sebagai guru.

Pengalaman sebagai guru turut membentuk dirinya sebagai pendidik seni. Karena kepiawaiannya dalam mengajarkan kesenian dan musik tradisional Batak, masyarakat kemudian mengenalnya dengan panggilan Guru Guntur Sitohang.

Julukan tersebut bukan sekadar panggilan. Di baliknya terdapat pengakuan terhadap kemampuan Guntur dalam memainkan, mengajarkan sekaligus memahami musik tradisional Batak Toba.

Dari Opera Batak hingga Gondang Sabangunan

Karier musik Guntur Sitohang mulai berkembang sejak usia muda. Ia pernah terlibat dalam sejumlah kelompok Opera Batak dan tampil sebagai pemain tambahan ketika masih berstatus pelajar.

Kemampuan bermusiknya terus berkembang. Ia kemudian tampil dalam berbagai kelompok musik dan mulai dikenal sebagai pemain Gondang Sabangunan, termasuk memainkan taganing.

Guntur juga dikenal memiliki kemampuan memainkan sarune etek, bahkan menguasai teknik yang pada masanya tergolong tidak banyak dikuasai oleh pemain musik tradisional Batak.

Perjalanan bersama kelompok-kelompok musik membawanya tampil di berbagai wilayah Tanah Batak, termasuk Samosir, Toba dan kawasan Silindung. Dari perjalanan tersebut, kemampuan dan reputasinya semakin dikenal luas.

Guntur Sitohang dan Lagu Sianjur Mula Mula

Salah satu karya yang sangat lekat dengan nama Guntur Sitohang adalah “Sianjur Mula Mula”.

Lagu tersebut menggambarkan keindahan Sianjur Mula Mula sekaligus berkaitan dengan kisah asal-usul masyarakat Batak Toba dan Raja Batak. Karya Guntur kemudian dipelajari dan dikembangkan kembali oleh generasi berikutnya, termasuk putranya, Martahan Sitohang.

Sejumlah penelitian akademik mengenai musik Guntur Sitohang juga mencatat perannya sebagai pemusik, pembuat alat musik dan pencipta karya musik Batak Toba.

Maestro yang Juga Membuat Alat Musik Batak

Keistimewaan Guntur Sitohang tidak hanya terletak pada kemampuannya memainkan alat musik. Ia juga dikenal sebagai pembuat alat musik tradisional Batak Toba.

Ia membuat berbagai instrumen seperti hasapi, sulim, sarune, garantung dan taganing.

Proses pembuatannya dilakukan dengan sangat teliti. Mulai dari pemilihan bahan, pengolahan kayu hingga penyelesaian instrumen dilakukan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya.

Karena ia sendiri merupakan pemain musik, Guntur memahami karakter suara yang dihasilkan setiap alat musik. Faktor inilah yang membuat alat musik buatannya dikenal memiliki kualitas dan karakter suara yang baik.

Sebuah penelitian Departemen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara mengenai hasapi buatan Guntur Sitohang mencatat proses pembuatannya secara langsung di Desa Turpuk Limbong, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

Hasil karya Guntur bahkan diminati bukan hanya oleh pemusik Batak di berbagai daerah Indonesia, tetapi juga oleh pihak yang memiliki perhatian terhadap seni dan instrumen tradisional Batak di luar negeri.

Mendidik Anak dan Melanjutkan Tradisi

Kecintaan Guntur terhadap musik juga diwariskan kepada keluarganya.

Ia bersama istrinya, Tiamsah Habeahan, membesarkan 11 anak. Sejumlah anak mereka kemudian mengikuti jejak sang ayah dalam dunia seni dan musik tradisional.

Di antara generasi penerus tersebut terdapat Martogi Sitohang, Martahan Sitohang, Junihar Sitohang, Hardoni Sitohang dan Lasnur Maya Sitohang.

Martogi dikenal sebagai pemusik tradisional, sementara Martahan menempuh pendidikan formal di bidang etnomusikologi dan kemudian ikut mengembangkan musik tradisional Batak.

Sementara itu, sejumlah kajian mengenai pelestarian musik tradisi di Desa Turpuk Limbong mencatat keberlanjutan aktivitas seni yang berkaitan dengan keluarga Guntur Sitohang. Sanggar Upagordang yang didirikan Guntur kemudian diteruskan dan dikelola generasi berikutnya sebagai bagian dari upaya menjaga musik tradisional Batak Toba.

Lestarikan Musik Batak

Memasuki masa pensiun, Guntur Sitohang tidak berhenti berkesenian. Ia tetap aktif memberikan pemikiran mengenai kebudayaan dan musik tradisional.

Ia juga dipercaya terlibat dalam kegiatan pembinaan kebudayaan di Samosir. Pada Festival Danau Toba 2013, misalnya, Guntur mendapat perhatian sebagai salah satu tokoh seni budaya dari Harian Boho. Ia hadir dalam rangkaian kegiatan World Drum Festival Danau Toba.

Kehadiran Guntur pada masa tuanya menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti mengabdikan diri kepada kebudayaan.

Empat tahun sebelum wafat, ia juga tampil dalam World Drum Festival Danau Toba 2013 bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Momen tersebut menjadi salah satu gambaran kuat tentang bagaimana tradisi musik Batak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pesan Guntur Tradisional Musik Batak

Salah satu kegelisahan Guntur Sitohang adalah semakin berkurangnya penggunaan alat musik tradisional dalam berbagai kegiatan adat maupun kehidupan gereja.

Ia berpandangan bahwa perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan akar kebudayaan.

Bagi Guntur, musik tradisional Batak bukan sekadar hiburan. Musik merupakan bagian dari identitas, sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Batak Toba.

Karena itu, ia mendorong generasi muda agar tetap mengenal dan memainkan alat musik tradisional seperti gondang, taganing, hasapi, sulim dan garantung.

Semangat tersebut menjadi penting di tengah perubahan zaman, ketika instrumen modern semakin mudah ditemukan dalam berbagai pertunjukan.

Guntur Sitohang dan Warisan yang Ditinggalkan

Guntur Sitohang meninggal dunia pada Minggu, 11 Juni 2017, dalam usia 81 tahun. Ia kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya, Harian Boho, Samosir.

Kepergiannya meninggalkan kesedihan bagi keluarga dan komunitas seni Batak Toba. Namun, warisan yang ditinggalkannya tidak ikut berakhir.

Warisan itu hadir melalui alat-alat musik yang pernah dibuatnya, lagu-lagu yang diciptakannya, ilmu yang diajarkannya, serta anak dan cucu yang meneruskan kecintaan terhadap musik tradisional Batak.

Ketika jenazah Guntur disemayamkan, salah satu putranya, Martahan Sitohang, memainkan hasapi sebagai penghormatan terakhir kepada sang ayah dan guru.

Hidup dalam Gondang Batak

Delapan tahun lebih setelah kepergiannya, nama Guru Guntur Sitohang tetap memiliki tempat khusus dalam sejarah musik tradisional Batak Toba.

Ia membuktikan bahwa menjadi maestro tidak selalu harus melalui pendidikan musik formal. Ketekunan, pengalaman, kecintaan terhadap budaya dan kemauan untuk terus belajar mampu melahirkan seorang seniman besar.

Dari Desa Urat dan Harian Boho di Samosir, Guntur Sitohang mengabdikan hidupnya untuk musik. Ia bermain, mencipta, membuat alat musik, mengajar dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ketika masyarakat Batak berbicara tentang Gondang Batak, musik tradisional Batak Toba dan pelestarian budaya Samosir, nama Guru Guntur Sitohang layak dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang telah memberikan hidupnya untuk menjaga warisan leluhur.

Kata kunci SEO: Guntur Sitohang, Guru Guntur Sitohang, maestro Gondang Batak, maestro musik Batak, musik tradisional Batak Toba, alat musik Batak, Gondang Sabangunan, Samosir, Harian Boho, Sianjur Mula Mula, budaya Batak Toba, Martogi Sitohang, Martahan Sitohang. (red/tam/wiki)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.