Rumah Sakit Berusia Seabad, Ini Sosok dr. Djasamen Saragih Putra Pertama Simalungun Bergelar Dokter
Siantar – Lintas Publik, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar merupakan salah satu rumah sakit tertua di Sumatera Utara yang memiliki sejarah panjang dalam pelayanan kesehatan. Berdiri sejak tahun 1911 pada masa pemerintahan kolonial Belanda, rumah sakit ini terus berkembang hingga menjadi rumah sakit rujukan regional sekaligus Rumah Sakit Kelas B Pendidikan yang melayani masyarakat dari berbagai daerah di kawasan Sumatera Utara.
Rumah sakit yang berlokasi di Jalan Sutomo Nomor 230, Kota Pematangsiantar, ini awalnya didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan nama Siantar Dokter Fonds. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1958 pengelolaan rumah sakit diserahkan Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum Pematangsiantar.
BACA JUGA "Orang Buta" Saja Mau Baca Alkitab, Ini Faktanya
![]() |
| Rumah Sakit dr. Djasamen Saragih Berusia Seabad/ist |
Tonggak sejarah penting terjadi pada tahun 2007 ketika rumah sakit ini resmi berganti nama menjadi RSUD dr. Djasamen Saragih, pada masa kepemimpinan Wali Kota Pematangsiantar Ir. RE Siahaan. Pergantian nama tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada almarhum dr. Djasamen Saragih, seorang tokoh kesehatan asal Simalungun yang dikenal sebagai putra pertama Simalungun yang berhasil meraih gelar dokter.
Perkembangan rumah sakit terus berlanjut. Pada tahun 2012, RSUD dr. Djasamen Saragih ditetapkan sebagai Rumah Sakit Kelas B Pendidikan, kemudian pada tahun 2013 memperoleh status sebagai Rumah Sakit Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD), sehingga semakin meningkatkan kualitas pelayanan, pendidikan, dan pengelolaan rumah sakit.
Sosok dr. Djasamen Saragih
Nama dr. Djasamen Saragih memiliki arti penting dalam sejarah kesehatan di Sumatera Utara. Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, beliau menempuh pendidikan kedokteran di NIAS (Nederlands Indische Artsen School) pada periode 1934–1939. Setelah itu melanjutkan pendidikan kedokteran pada masa pendudukan Jepang di Jakarta dan dinyatakan lulus pada 20 Agustus 1943.
Kariernya dimulai di Rumah Sakit Balatentara Jepang di Jakarta yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM). Selanjutnya, dr. Djasamen Saragih mengabdikan diri di Rumah Sakit Umum Siantar pada periode 1944–1947 sebelum ditugaskan ke Berastagi pada tahun 1947.
Selain dikenal sebagai dokter, beliau juga merupakan tokoh kesehatan yang aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Timur dan Simalungun.
BACA JUGA Makam dr. Djasamen Saragih Direnovasi, Ini Kata Wali Kota Siantar
Makam Dipugar sebagai Bentuk Penghormatan
Penghormatan terhadap jasa dr. Djasamen Saragih kembali diwujudkan melalui pemugaran makamnya yang berada di Nagori Aman Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun. Renovasi makam tersebut diresmikan pada Selasa (4/8/2026) oleh Bupati Simalungun Dr. H. Anton Achmad Saragih, didampingi Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi.
Dalam kesempatan itu, Patra Saragih yang mewakili keluarga besar dr. Djasamen Saragih mengungkapkan bahwa almarhum merupakan putra pertama Simalungun yang berhasil meraih gelar dokter pada era 1930-an, ketika kesempatan memperoleh pendidikan tinggi masih sangat terbatas bagi masyarakat daerah.
"Perjuangannya menjadi seorang dokter pada masa itu bukanlah hal yang mudah. Keluarga besar Djasamen saragih banyaktinggal di Jakarta, kami berjanji tetap menjaga dan merawat makam ini sebagai penghormatan abadi," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Simalungun berharap makam tersebut tidak hanya menjadi tempat ziarah keluarga, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi. Ia meminta Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun untuk memasukkan kisah perjuangan dr. Djasamen Saragih ke dalam materi muatan lokal sejarah di sekolah-sekolah.
Dengan usia lebih dari satu abad, RSUD dr. Djasamen Saragih tidak hanya menjadi simbol pelayanan kesehatan di Kota Pematangsiantar, tetapi juga menjadi pengingat atas dedikasi seorang putra terbaik Simalungun yang mengabdikan hidupnya bagi dunia kesehatan dan perjuangan bangsa. Pengabadian namanya di rumah sakit tersebut diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya, mengabdi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (red/tam/bs)





Tidak ada komentar