Ompu i Pdt. Kasianus Sirait, Ephorus HKBP Pertama Orang Batak, Ini Daftar Ephorus Dari Masa ke Masa
Lintas Publik, Nama Ompu i Pdt. Kasianus (K.) Sirait tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sebagai Ephorus ke-6 yang memimpin gereja pada periode 1940–1942. Ia menjadi Ephorus pertama dari kalangan Batak, sekaligus tokoh yang memimpin HKBP pada salah satu masa paling sulit dalam perjalanan gereja, yakni ketika Perang Dunia II mengguncang dunia.
Terpilih melalui Sinode Godang Istimewa pada 10 Juli 1940, Pdt. Kasianus Sirait menggantikan Ompu i Pdt. E. Verwiebe, Ephorus ke-5 asal Jerman. Pergantian kepemimpinan tersebut bukan sekadar pergantian jabatan, tetapi juga menjadi titik balik sejarah menuju kemandirian HKBP.
BACA JUGA Pengacara Prof. Dr. Otto Hasibuan, Alumni SMA Negeri 1 Pematangsiantar yang Kini Menjabat Wakil Menteri Koordinator 
Pada tahun 1940, Pemerintah Hindia Belanda mendeportasi para misionaris Jerman yang bertugas di Indonesia karena Jerman menjadi musuh Belanda dalam Perang Dunia II. Kebijakan itu membuat seluruh pimpinan misionaris asal Jerman harus meninggalkan Tanah Batak, sehingga kepemimpinan gereja beralih sepenuhnya kepada putra-putra Batak.
Dengan demikian, setelah lima periode kepemimpinan yang dipegang para misionaris Jerman sejak masa Ompu i Pdt. Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, Pdt. Kasianus Sirait dipercaya menjadi pemimpin tertinggi HKBP pertama dari kalangan Batak.
Istilah "Ephorus" Diganti Menjadi "Voorzitter"
Situasi politik dunia saat itu turut memengaruhi kehidupan gereja. Pemerintah Hindia Belanda melarang penggunaan berbagai istilah yang dianggap berbau Jerman, termasuk sebutan "Ephorus".
Sebagai penggantinya, pemerintah mewajibkan penggunaan istilah Belanda "Voorzitter", yang berarti Ketua. Karena itu, selama masa kepemimpinan Pdt. Kasianus Sirait, jabatan Ephorus secara resmi disebut Voorzitter HKBP.
Namun dua tahun kemudian, tepatnya pada 1942, keadaan kembali berubah ketika Jepang menguasai Hindia Belanda. Pemerintah kolonial Belanda kemudian dideportasi oleh Jepang yang saat itu menjadi sekutu Jerman dan Italia dalam Perang Dunia II.
Masa kepemimpinan Pdt. Kasianus Sirait memang relatif singkat, hanya berlangsung selama dua tahun. Namun perannya sangat menentukan dalam menjaga keberlangsungan pelayanan HKBP di tengah situasi perang, keterbatasan sarana, serta perubahan politik yang sangat cepat.
Berbagai catatan sejarah menyebutkan bahwa Pdt. Kasianus Sirait dikenal sebagai pendeta yang berani, sederhana, dan tidak haus kekuasaan. Setelah masa kepemimpinannya berakhir pada 1942, ia tidak berupaya mempertahankan jabatan atau menggunakan pengaruh untuk tetap memimpin gereja.
Sikap tersebut menjadi teladan kepemimpinan yang mengutamakan panggilan pelayanan dibanding kepentingan pribadi.
Tonggak Kemandirian HKBP
Momentum terpilihnya Pdt. Kasianus Sirait juga menjadi simbol lahirnya kemandirian kepemimpinan HKBP.
Pada 10 Juli 2020, HKBP memperingati 80 Tahun Kemandirian Gereja HKBP (80 Taon HKBP Manjujung Baringinna). Perjalanan menuju kemandirian tersebut tidaklah mudah. Berbagai tantangan untuk menghadapi pemerintah kolonial dan dinamika hubungan terhadap lembaga zending yang selama puluhan tahun telah mendampingi pelayanan HKBP.
Di tengah pergumulan itu, loyalitas dan kemampuan para pendeta Batak diuji untuk membuktikan bahwa gereja mampu berdiri dan dipimpin oleh anak-anak bangsa sendiri.
Struktur Kepemimpinan HKBP Tahun 1940
Dalam Sinode Godang Istimewa tahun 1940, selain memilih Pdt. Kasianus Sirait sebagai Voorzitter HKBP, juga ditetapkan Gr. Archelaus Nainggolan sebagai sekretaris sekaligus penningmeester (bendahara umum).
Majelis Pusat (Hoofdbestuur) saat itu terdiri dari unsur penginjil Eropa dari Batak Nias Zending (BNZ) dan tokoh-tokoh Kristen Batak, antara lain:
- Pdt. Justin Sihombing (Medan)
- Ds. Gramberg (BNZ, Balige)
- Ds. H.F. de Kleine (Seminari Sipoholon)
- Mr. Dr. Sutan Gunung Mulia Harahap (Jakarta)
- Polin Siahaan (Balige)
- Raja Renatus Hutabarat (Tarutung)
- Mangaraja Panikkan Ritonga (Angkola)
- Raja Israel Hutasoit (Siborongborong)
- Petrus Hutapea (Pematangsiantar)
Dengan fasilitas yang terbatas di Kantor Pusat HKBP, dan karena sebagian besar ruangan tetap digunakan BNZ kepemimpinan gereja tetap berjalan.
Dalam pelayanan sehari-hari, Voorzitter Pdt. Kasianus Sirait dibantu oleh empat Praeses, yakni Pdt. Justin Sihombing (Medan), Pdt. Henok Siahaan (Balige), Pdt. Herkules Marbun (Doloksanggul), dan Pdt. Herman Ritonga (Padangsidimpuan), bersama 59 Pendeta Resort serta seorang Guru Huria di Padang, Gr. Melanthon Lumbantobing.
Warisan Sejarah yang Tetap Dikenang
Setelah masa kepemimpinan Pdt. Kasianus Sirait berakhir, Sinode HKBP memilih Ompu i Pdt. Dr. Justin Sihombing sebagai Ephorus ke-7 yang memimpin selama dua dekade (1942–1962), menjadikannya Ephorus dengan masa pelayanan terlama kedua setelah Ompu i Pdt. Dr. I.L. Nommensen yang memimpin selama 37 tahun (1881–1918).
Hingga kini, nama Ompu i Pdt. Kasianus Sirait tetap dikenang sebagai pelopor kepemimpinan Batak di HKBP. Kepemimpinannya menjadi simbol keberanian, kesetiaan, dan tonggak penting dalam perjalanan gereja menuju kemandirian.
Foto: Ompu i Pdt. Kasianus Sirait, Voorzitter HKBP periode 1940–1942 sekaligus Ephorus pertama HKBP dari kalangan Batak. Foto telah diwarnai secara digital.
Daftar Lengkap Ephorus HKBP dari Masa ke Masa (1881–2028)
Sejak berdirinya kepemimpinan gerejawi HKBP pada tahun 1881, jabatan Ephorus telah diemban oleh sejumlah tokoh yang berperan penting dalam perjalanan pelayanan gereja terbesar di Indonesia tersebut. Berikut urutan lengkap para Ephorus HKBP beserta masa pelayanan dan keterangannya.
| No | Nama Ephorus | Masa Jabatan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1 | Pdt. Dr. I.L. Nommensen | 1881–1918 | Ephorus pertama HKBP sekaligus misionaris yang dikenal sebagai Rasul Bangsa Batak. |
| 2 | Pdt. Valentin Kessel | 1918–1920 | Menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs.) Ephorus setelah wafatnya Nommensen. |
| 3 | Pdt. Dr. Johannes Warneck | 1920–1932 | Memimpin HKBP selama 12 tahun. |
| 4 | Pdt. P. Landgrebe | 1932–1936 | Melanjutkan kepemimpinan HKBP pada masa perkembangan pelayanan. |
| 5 | Pdt. Dr. E. Verwiebe | 1936–1940 | Ephorus terakhir sebelum kepemimpinan beralih kepada putra Batak. |
| - | Pdt. H.F. de Kleine | 1940 | Ditunjuk pemerintah kolonial Belanda sebagai Pejabat Ephorus, namun kepemimpinannya tidak diakui HKBP. |
| 6 | Pdt. K. Sirait | 1940–1942 | Orang Batak pertama yang menjabat sebagai Ephorus HKBP. |
| 7 | Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing | 1942–1962 | Memimpin HKBP selama sekitar 20 tahun melalui beberapa periode kepemimpinan. |
| 8 | Pdt. Dr. (H.C.) T.S. Sihombing | 1962–1974 | Terpilih dalam Sinode Godang Istimewa HKBP. |
| 9 | Pdt. G.H.M. Siahaan | 1974–1986 | Menjabat selama dua periode kepemimpinan. |
| 10 | Pdt. Dr. Dr. (H.C.) S.A.E. Nababan, LLD | 1986–1998 | Masa kepemimpinannya diwarnai Krisis HKBP 1992–1998 yang memunculkan dualisme kepemimpinan. |
| 11 | Pdt. Dr. S.M. Siahaan | 1992–1993 | Menjabat sebagai Pejabat Ephorus pada masa krisis. |
| 12 | Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak | 1993–1998 | Terpilih melalui Sinode Godang Istimewa pada masa dualisme kepemimpinan HKBP. |
| 13 | Pdt. Dr. J.R. Hutauruk | 1998 | Terpilih sebagai Pejabat Sementara (Pjs.) Ephorus dalam Sinode Godang ke-52. |
| 13 | Pdt. Dr. J.R. Hutauruk | 1998–2004 | Terpilih sebagai Ephorus melalui Sinode Godang Rekonsiliasi yang mengakhiri konflik internal HKBP. |
| 14 | Pdt. Dr. Bonar Napitupulu | 2004–2012 | Menjabat selama dua periode. Periode kedua diputuskan dalam Sinode Godang HKBP ke-59 di Seminarium Sipoholon. |
| 15 | Pdt. W.T.P. Simarmata, M.A. | 2012–2016 | Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-61 di Seminarium Sipoholon. |
| 16 | Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing | 2016–2020 | Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-62 di Seminarium Sipoholon. |
| 17 | Pdt. Dr. Robinson Butarbutar | 2020–2024 | Terpilih dalam Sinode Godang HKBP ke-65 di Seminarium Sipoholon. |
| 18 | Pdt. Dr. Victor Tinambunan | 2024–2028 | Terpilih sebagai Ephorus HKBP dalam Sinode Godang HKBP ke-67 di Seminarium Sipoholon dan saat ini memimpin HKBP periode 2024–2028. |
Selama lebih dari 140 tahun perjalanan HKBP, kepemimpinan Ephorus telah mengalami berbagai dinamika, mulai dari masa misionaris Jerman, transisi kepada putra-putra Batak, masa perjuangan kemerdekaan, hingga krisis internal pada dekade 1990-an yang akhirnya diselesaikan melalui Sinode Godang Rekonsiliasi tahun 1998. Kini, HKBP terus melanjutkan pelayanannya di bawah kepemimpinan Pdt. Dr. Victor Tinambunan sebagai Ephorus periode 2024–2028. (berbagai sumber/red/tam)




Tidak ada komentar