Header Ads


Mengenang Kolonel Pol. (Purn.) Nelly Pauna Situmorang, Salah Satu Pelopor Polisi Wanita Pertama di Indonesia

Lintas Publik, Nama Nelly Pauna Situmorang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelopor Polisi Wanita (Polwan) pertama di Indonesia. Bersama lima rekannya, ia membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk mengabdikan diri di institusi kepolisian dan menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Polri.

BACA JUGA    Pomparan Situmorang akan Bangun Taman Budaya di Samosir, Ini Fasilitas Yang akan Dilengkapi


Almh. Kolonel Pol. (Purn.) Nelly Pauna Situmorang lahir di Solok, Sumatera Barat, pada 10 September 1924. Sebelum berkarier di dunia kepolisian, beliau terlebih dahulu mengabdikan diri sebagai guru SMP di Painan, Sumatera Barat.

Dedikasi dan semangat pengabdiannya kemudian membawanya menjadi bagian dari sejarah besar Kepolisian Republik Indonesia. Nelly Pauna bersama lima perempuan lainnya yakni Mariana Saanin Mufti, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, dan Rosnalia Taher menjadi enam perempuan Indonesia pertama yang resmi menjalani pendidikan kepolisian dan tercatat sebagai wanita ABRI pertama di Tanah Air.

Secara resmi, pada 1 September 1948, keenam perempuan muda tersebut mengikuti Pendidikan Inspektur Polisi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi, Sumatera Tengah, pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat Agresi Militer Belanda II berlangsung.

BACA JUGA  Lestarikan Sejarah, Tugu Situmorang di Revitalisasi, Ini Panitianya

Lahirnya Polisi Wanita di Indonesia berawal dari kebutuhan mendesak di masa perang. Saat itu terjadi pengungsian besar-besaran masyarakat untuk menghindari serangan militer Belanda. Pemeriksaan terhadap para pengungsi harus dilakukan secara ketat guna mengantisipasi penyusupan maupun tindak kriminal. Namun, banyak perempuan menolak diperiksa oleh polisi pria.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Indonesia menginstruksikan SPN Bukittinggi untuk membuka pendidikan kepolisian bagi kaum perempuan. Setelah melalui proses seleksi ketat, terpilihlah enam perempuan Minangkabau yang kemudian menjadi angkatan pertama Polisi Wanita Indonesia.

Tanggal 1 September 1948 kemudian dikenang dan ditetapkan sebagai Hari Lahir Polisi Wanita (Polwan).

Mengutip informasi dari Museum Polri, keenam calon inspektur polisi wanita tersebut sempat menghentikan pendidikan pada 19 Desember 1948 akibat pecahnya Agresi Militer Belanda II. Namun perjuangan mereka tidak berhenti. Pendidikan kembali dilanjutkan pada 19 Juli 1950 di SPN Sukabumi.

Di Sukabumi, para calon Polwan tidak hanya mendapatkan pelatihan militer, tetapi juga pendidikan sosial dan kemasyarakatan seperti ilmu jiwa, pedagogi, sosiologi, psikologi, hingga pelatihan bela diri seperti anggar, jiu-jitsu, dan judo.

BACA JUGA   Arti dan Filosofi Tugu SITOHANG

6 Orang Pelopor Polisi Wanita (Polwan) Pertama di Indonesia
Setelah menyelesaikan pendidikan, pada 1 Mei 1951 keenam Polwan pertama Indonesia mulai bertugas di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta Raya. Mereka mendapat tanggung jawab khusus menangani kasus yang berkaitan dengan perempuan, anak-anak, serta berbagai persoalan sosial lainnya.

Tugas utama mereka saat itu meliputi mengusut, memberantas, dan mencegah kejahatan terhadap perempuan dan anak-anak, membantu pemeriksaan terhadap tersangka perempuan, hingga memberantas perdagangan perempuan dan anak-anak.

Perjalanan panjang Polisi Wanita Indonesia terus berkembang. Selain pendidikan di SPN Sukabumi, pada tahun 1975 pendidikan kader Polwan dikembangkan ke Sekolah Kepolisian RI di Ciputat, Jakarta. Selanjutnya dibuka pula kelas khusus untuk pendidikan Bintara Polwan.

Pada tahun 1982, kelas tersebut berkembang menjadi Pusat Pendidikan Polisi Wanita (Pusdikpolwan). Kemudian pada 30 Oktober 1984 statusnya berubah menjadi Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) di bawah Direktorat Pendidikan Polri.

Seiring waktu, minat perempuan Indonesia untuk bergabung menjadi Polwan terus meningkat. Kini jumlah Polisi Wanita di Indonesia telah mencapai puluhan ribu personel dan berperan penting dalam berbagai bidang pelayanan masyarakat serta penegakan hukum.

Almh. Kolonel Pol. (Purn.) Nelly Pauna Situmorang wafat pada 21 Oktober 1981. Meski telah berpulang, semangat pengabdian dan perjuangannya tetap hidup serta menjadi inspirasi bagi generasi Polisi Wanita Indonesia hingga saat ini.

Dari beberapa literasi menginformasikan bahwa Suami dari Kolonel Pol. (Purn.) Nelly Pauna Situmorang adalah seorang TNI berpangkat Mayor Jenderal Polisi, dan memiliki anak bernama Rika Situmorang, namun belum dapat dipastikan apakah Pauna Situmorang keturunan asli dari Samosir yaitu asal muasal marga dari Situmorang. (red/berbagai sumber)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.