Lakukan Blusukan, TRS Disambut Antusias dan Terima Banyak Pengaduan
LINTAS PUBLIK-SIANTAR, Kegiatan turun ke jalan langsung atau yang kerap dikenal blusukan, kembali dilakukan Calon Walikota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Teddy Robinson Siahaan (TRS), Senin dan Selasa (28-29/09/2015). Bersama dengan Wakilnya Zainal Purba dan beberapa tim pemenangan, TRS mendapat banyak pengaduan atau keluhan dari masyarakat.
Bermula berjalan kaki mengelilingi inti kota Pematangsiantar, yakni Jalan Merdeka-Sutomo, TRS yang mengenakan kemeja putih dengan celana jeans favoritnya, disambut antusias masyarakat. Mulai dari berjabat tangan dan berpelukan, hingga ajakan berselfie pun dilayaninya.
Bahkan, banyak pedagang Pasar Horas yang mengelu-elukan TRS. Mereka meminta TRS naik ke lantai dua untuk bersalaman dan berfoto dengan para pedagang.
![]() |
| Pedagang minta TRS berfoto bersama |
Sama halnya dengan pengendara sepeda motor dan sopir angkot yang sengaja berhenti untuk melihat langsung TRS-Zainal. Beberapa diantara mereka bahkan meminta untuk bersalaman langsung dengan TRS-Zainal.
Kunjungan TRS yang juga didampingi anggota DPRD Pematangsiantar OW Heri Darmawan, Frans Herbert Siahaan, dan Denny Torang Siahaan dijadikan kesempatan masyarakat untuk menyampaikan keluhannya tentang sistem pemerintahan. Mulai dari pungutan liar, penggusuran hingga gaji pegawai yang berstatus honorer.
"Horas, inang. Boha kabar?. (Salam ibu, bagaimana kabarnya? )," tanya TRS, disambut teriakan para pedagang Pasar Horas yang kebanyakan kaum ibu.
Dengan wajah penuh kesenangan, para pedagang yang berada di lantai ini langsung menjawab pertanyaan TRS. Tak sedikit juga yang langsung memeluk layaknya pelukan melepas kerinduan.
Pria kelahiran 4 Maret 1964 ini mempertanyakan keluhan para pedagang. Para pedagang pun dengan serentak melontarkan keluhan mereka. Ada yang mengeluhkan harga air minum, keamanan dan fasilitas di Pasar Horas, hingga perhatian pemerintah tentang kesejahteraan pedagang.
"Berat kali rasanya kami dengan itu semua. Kami cuman berpesan, jika nanti bapak menjadi Walikota, janganlah ikut menipu kami," ungkap seorang pedagang, dengan rasa haru.
Mendengar hal itu, TRS memastikan tidak akan pernah membuat masyarakat kecewa. Terutama pedagang.
"Itu semua sudah masuk dalam agenda kerja kami. Saya siap membuat perjanjian dengan masyarakat. Membuat hitam di atas putih dan tanda tangan langsung. Itu akan saya lakukan. Jadi saya berpesan, tidak usah ragu. Lihat calon berdasarkan latar belakang dan pengalaman," terang TRS, sembari menepuk pundak para Ibu pedangang.
Setelah menjawab keluhan pedagang Pasar Horas, TRS dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Pertokoan Deli . Di sana TRS kembali menerima teriakan minta tolong. Berbeda dari pedagang di Pasar Horas, pedagang di Pertokoan Deli ini mengeluhkan ancaman pengosongan dari salah seorang pengusaha.
"Pak, disini kami sudah berdagang sejak 1982. Sejak bangunan ini belum berdiri seperti ini. Dan kami sudah membelinya. Tapi kami malah mau digusur, Pak. Di Pengadilan pun kami kalah. Sampai mati pun kami tidak akan pernah mau pindah. Biar kami dikubur disini," ujar Mami, salah seorang pedagang.
Mami berharap, jika seandainya TRS menjadi Walikota, dia dan pedagang lainnya mendapat perlindungan dan jaminan kenyamanan berjualan.
"Hanya Bapak harapan kami. Hanya sama Bapak kami bisa mengeluh seperti ini. Kami bulatkan untuk mendukung Bapak. Tolong kami, Pak. Kemanalah kami nanti," ucap Mami sembari menangis.
TRS yang mendengar langsung keluhan itu, memastikan akan memperioritaskan keamanan dan kenyamanan para pedagang.
"Ibu bisa kasih nomor telepon. Catat jumlah pedagang dan nanti kita lakukan pertemuan untuk menindaklanjuti. Ini pasti menjadi PR kita. Jadi bersabar dulu, karena saya saat ini belum bisa berbuat apa-apa. Kan saya belum jadi Walikota. Kalau nanti saya terpilih, kita tuntaskan semua," terangnya, disambut tawa dari pedagang.
Keluhan lain datang dari EG, petugas juru parkir di Jalan Merdeka. Selama bertugas menjadi jukir, EG mengaku sangat berat dengan setoran lahan parkir.
"Ngeri kali rasanya pak, membayar setoran parkir. Kadang bisa cuma bawa 10 sampai 15 ribu ke rumah," keluhnya.
Selain EG, pengaduan juga diterima TRS dari pasangan suami istri Ece dan Parmi yang kesehariannya sebagai pedagang kaki lima mie pansit ayam. Kepada TRS dan Zainal, pasangan yang tinggal di daerah Jalan Medan itu mengaku mendapat pungutan dari oknum Satuan Pamong Praja (Satpol PP) sebesar 150 ribu setiap bulannya.
"Kami cuma minta, jika nanti bapak terpilih, jangan lupa sama kami," pintanya.
Mendengar hal itu, TRS langsung menyatakan tidak akan pernah ingkar janji.
"Kalau nanti saya terpilih, saya benahi semua oknum-oknum seperti itu. Saya datang untuk mengabdi, bukan untuk menyakiti," terangnya, disambut jabatan tangan dari keduanya.
Masih di kegiatan blusukannya, kembali lagi TRS mendapat keluhan. Kali ini dari tukang jahit sepatu. Dengan penuh harap, pria setengah baya yang mengaku marga Sianturi ini menyampaikan harapannya agar ke depan bisa terus turun ke rakyat seperti ini
“Semoga Bapak berhasil dan selalu mau melihat kami rakyat kecil ini. Terutama setiap pengurusan di kantor-kantor camat. Mengurus KTP dan surat-surat lain biar jangan dipersulit," ungkapnya.
TRS yang diminta tanggapannya tentang pengaduan dan keluhan masyarakat itu, mengatakan akan melaksanakannya jika dirinya diberi amanah rakyat untuk memimpin kota yang memiliki slogan Sapangambeian Manoktok Hitei ini.
"Jika rakyat memilih saya, itu semua sudah masuk dalam agenda saya. Termasuk gaji pegawai hingga kesejahteraan rakyat kecil. Semua itu akan saya laksanakan sesuai pengalaman dan relasi saya di pusat," jelasnya
Tak lupa, TRS meminta maaf kepada masyarakat yang merasa terganggu dengan terjadinya kemacetan lalu lintas terkait kegiatan blusukan yang dilakukannya.
“Saya memohon maaf jika karena kegiatan blusukan saya ini membuat kemacetan dan membuat tak nyaman sebagian masyarakat di Siantar,” ujarnya.
Penulis : franki/rel
Editor : tagor




Tidak ada komentar