Kolonel Maludin Simbolon: Panglima Bukit Barisan Pertama hingga Tokoh PRRI
Lintas Publik, Maludin Simbolon (13 September 1916 – 15 April 2000) merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah militer Indonesia. Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, Panglima Tentara Teritorium I/Bukit Barisan, serta pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
BACA JUGA Temuan Mayat di Siantar Martoba: Wanita 48 Tahun Ditemukan Meninggal, Ini Diduga Penyebabnya
![]() |
| Kolase Alm.. Kolonel Maludin Simbolon/ist |
Maludin Simbolon berasal dari keluarga Batak Toba yang memiliki akar dari wilayah Samosir. Keturunannya diketahui bermigrasi ke berbagai daerah di Tapanuli sebelum akhirnya menetap di Tarutung.
Ia lahir di Pearaja, Tarutung, pada 13 September 1916. Maludin merupakan anak kedua dari sebelas bersaudara, dari pasangan Julius Simbolon dan Nursiah Lumbantobing.
Pendidikan dan Awal Karier
Pendidikan dasar ditempuh di HIS Narumonda. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Chr. HIK Solo (sekolah guru) dan lulus pada 1938. Sebelum terjun ke dunia militer, Maludin sempat berprofesi sebagai guru di Solo dan Curup, Bengkulu.
Pada masa pendudukan Jepang, ia mengikuti pendidikan militer Gyugun dan lulus dengan pangkat Letnan Dua. Setelah itu, ia bertugas di Sumatera Selatan dalam bidang pendidikan dan pelatihan militer.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maludin Simbolon bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia dipercaya menjadi Komandan Divisi Palembang Ulu dengan pangkat Kolonel.
Karier militernya terus menanjak. Ia pernah memimpin Divisi I/Lahat dan kemudian menjabat sebagai Komandan Divisi VIII Garuda yang membawahi wilayah Sumatera bagian selatan seperti Lampung, Bengkulu, Palembang, dan Jambi.
Saat Agresi Militer Belanda II, ia juga berperan dalam struktur Pemerintahan Darurat Republik Indonesia sebagai wakil gubernur militer di Sumatera.
Tahun 1950, Kolonel Maludin diangkat sebagai Panglima pertama wilayah Komando Tentara Teritorium I/Bukit Barisan. Wilayah komandonya sangat luas, meliputi Sumatera Utara, Aceh, hingga Sumatera Barat.
Keterlibatan dalam PRRI
Memasuki akhir 1950-an, Maludin Simbolon termasuk tokoh daerah yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat, terutama terkait kesejahteraan prajurit dan otonomi daerah.
Pada 22 Desember 1956, ia menyatakan pemutusan hubungan militer wilayah Sumatera Utara dengan pemerintah pusat di Medan. Langkah ini menjadi bagian dari dinamika politik yang kemudian melahirkan PRRI.
Dalam struktur PRRI, Maludin menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dengan masa jabatan 1958 hingga 1961.
Setelah konflik berkepanjangan antara pemerintah pusat dan PRRI, Maludin Simbolon bersama pasukannya akhirnya menyerahkan diri pada 27 Juli 1961 di Balige. Penyerahan ini menandai berakhirnya perlawanan bersenjata yang ia pimpin.
Maludin Simbolon meninggal dunia pada 15 April 2000 dalam usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya bagi bangsa. (wiki/tam)




Tidak ada komentar