Suaminya Budha, Istrinya Kristen, Anak-anaknya Bagaimana?
LINTAS PUBLIK – SIANTAR, Yang menarik perayaan perayaan Imlek adalah dapat saling berbagi dan menghargai. Karena tujuan kita adalah satu, yaitu menyembah Tuhan yang maha kuasa.
“Kita harus saling menghargai satu sama lain, karena tujuan kita satu, yaitu menyembah Tuhan yang maha kuasa,” kata Jimmy seorang Etnis Thionghoa yang sedang sembayang Imlek 2016 (tahun baru Cina), Senin pagi (8/2/2016) di Vihara Avalokitesvara jalan Panei Pematangsiantar.
Jimmy yang bekerja sebagai Wiraswasta, yang tinggal di jalan Rakutta sembiring menjelaskan, bahwa istrinya adalah seorang Nasrani. Walaupun istrinya seorang Kristen, tidak membuat mereka harus terpisah karena perbedaan.
BACA JUGA Puluhan Pengemis Padati Vihara Sammidha Bhagya
“Kalau Imlek yang kami rayakan tradisi Imlek, kalau Natalan ya kami rayakan bersama-sama,”jelas Jimmy ditemani salah seorang adiknya laki-laki.
Kata Jimmy lagi, Istrinya setiap Minggu kegereja, dan sekali seminggu ada perkumpulan doa baik dirumah jemaat gereja yang lain, maupun di rumahnya sendiri.
“Istri sayakan ada perkumpulan kebaktian gereja, satu hari dalam setiap minggu mereka ada kebaktian di rumah jemaat. Dan kemarin ada sekitar 40an datang kerumah untuk ibadah, yah kami saling menghormati satu sama lain, istri saya kebaktian bersama-sama dirumah,”tutur Jimmy yang bangga akan sosok istrinya yang rajin beribadah.
Jimmy yang memiliki 7 (tujuh) anak ini menambahkan, bahwa dari semua anak-anaknya tetap dibebaskan beribadah menurut kemauannya. Tak satupun anaknya dipaksakan harus mengikut dirinya, atau harus mengikut ibunya.
“Kalau anak-anak mau ikut saya sembayang ke Vihara yah oke, kalau mau ikut ibunya kegreja yah oke juga, kemana kemauan anak kita bebaskan, dirumah kami bebas berdemokrasi. Tujuan kita satu, dan Tuhan kita satu, hanya caranya saja yang berbeda,”tutup Jimmy bangga menjadi bagian dari masyarakat Siantar yang hidup dalam Kebhinekaan.
Penulis : tagor
“Kita harus saling menghargai satu sama lain, karena tujuan kita satu, yaitu menyembah Tuhan yang maha kuasa,” kata Jimmy seorang Etnis Thionghoa yang sedang sembayang Imlek 2016 (tahun baru Cina), Senin pagi (8/2/2016) di Vihara Avalokitesvara jalan Panei Pematangsiantar.
![]() |
| Jimmy sedang sembayang di Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar/ photo tagor |
BACA JUGA Puluhan Pengemis Padati Vihara Sammidha Bhagya
“Kalau Imlek yang kami rayakan tradisi Imlek, kalau Natalan ya kami rayakan bersama-sama,”jelas Jimmy ditemani salah seorang adiknya laki-laki.
![]() |
| Masyarakat etnis Thionghoa sembayang di Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar, sembayang ini dalam rangka perayaan Imlek tahun 2016/photo tagor |
“Istri sayakan ada perkumpulan kebaktian gereja, satu hari dalam setiap minggu mereka ada kebaktian di rumah jemaat. Dan kemarin ada sekitar 40an datang kerumah untuk ibadah, yah kami saling menghormati satu sama lain, istri saya kebaktian bersama-sama dirumah,”tutur Jimmy yang bangga akan sosok istrinya yang rajin beribadah.
Jimmy yang memiliki 7 (tujuh) anak ini menambahkan, bahwa dari semua anak-anaknya tetap dibebaskan beribadah menurut kemauannya. Tak satupun anaknya dipaksakan harus mengikut dirinya, atau harus mengikut ibunya.
“Kalau anak-anak mau ikut saya sembayang ke Vihara yah oke, kalau mau ikut ibunya kegreja yah oke juga, kemana kemauan anak kita bebaskan, dirumah kami bebas berdemokrasi. Tujuan kita satu, dan Tuhan kita satu, hanya caranya saja yang berbeda,”tutup Jimmy bangga menjadi bagian dari masyarakat Siantar yang hidup dalam Kebhinekaan.
Penulis : tagor






Tidak ada komentar