Olah Kentang Reject, Pria Ini Jadi Miliarder
LINTAS PUBLIK, Barang “reject” atau barang yang ditolak karena kualitasnya kurang bagus tak melulu harus jadi sampah. Jika diolah secara cermat, bahan-bahan ini bisa memberikan nilai tambah yang tak sedikit. Bahkan ada orang yang menjadi kaya lantaran sukses mengolah barang "reject".
Seperti yang dialami William Chase. Pria 56 tahun asal Herefordshire, Inggris, ini menjadi miliarder lantaran berhasil mengolah kentang "reject” menjadi penganan yang bernilai tinggi. Chase mampu mengolah kentang buruk rupa menjadi keripik yang laris hingga minuman jenis vodka yang harganya mahal.
Perkenalan Chase dengan bisnis kentang terjadi pada 1980, saat dia mengambil alih perkebunan milik ayahnya. Pada usia 20 tahun, Chase memberanikan diri untuk meminjam uang £200.000 (Rp 3,9 miliar) dari bank untuk membeli lahan, peralatan, dan modal kerja. Sejak saat itu, dia menjadi petani. Dan selama satu dekade, usaha cocok tanam kentangnya naik turun, tanpa pencapaian yang menggembirakan.
Namun cobaan berat datang pada 1992. Pada saat itu, hampir seluruh wilayah Inggris dilanda musim hujan lebat. Lantaran diguyur hujan setiap hari, kebun Chase rusak berat. Kentang yang dia tanam kemudian dipenuhi jamur dan mulai membusuk. Tak ayal, kerugian besar membayang di depan mata
Bangkrut dan mengasingkan diri
Lantaran gagal panen, Chase mengalami kerugian besar. Nyaris semua asetnya ludes untuk membayar utang. Di tengah situasi sulit itu, dia tak punya cara lain untuk melonggarkan diri dari jerat utang, selain mengajukan permohonan pailit. Selepas divonis bangkrut oleh pengadilan, Chase pun linglung. "Saat itu, saya merasa sangat malu," kata dia, dikutip dari BBC.
Rasa malu membawa Chase bertualang ke Australia. Di Negerui Kanguru itu, Chase berusaha mencari peruntungan baru. Sayang, nasib baik belum berpihak sehingga Chase terpaksa kembali ke Herefordshire. Lagi-lagi dia memberanikan diri meminjam uang, kali ini dari kerabatnya. Lantaran cuma kenal bisnis kentang, Chase pun kembali berkebun.
Tak mau nasib buruknya berulang, Chase mulai berpikir untuk mengembangkan usaha. Tak cuma bertani dan memanen kentang dari kebunnya, Chase kini mencoba menjadi pengepul hasil kebun beberapa petani lain dan memasarkannya ke supermarket. Tertatih-tatih dia mencoba menjadi bandar kentang amatiran dan membangun jejaring dengan peretail.
Pengalaman pahit kembali dia alami, tatkala supermarket tak mau memborong semua kentang dagangannya. Pemilik toko menolak sebagian kentang pasokan Chase lantaran kualitasnya kurang baik. Umbinya tak besar, kulitnya kurang menarik. Cokelat dan cenderung kering. Rupanya, kualitas kentang yang dia kumpulkan dari beberapa petani tak seragam. "Saya memasok 10, dikembalikan lima. Perlakuan supermarket itu sangat menyakitkan," ujarnya.
Tak dinyana, pengalaman pahit itu ternyata awal dari kesuksesan. Sehabis kecewa lantaran kentangnya ditolak supermarket, Chase putar otak. Satu waktu, pada 2002, dia membaca ekspansi bisnis Kettle Food Inc, perusahaan makanan asa; Amerika Serikat, ke Inggris. Di Negeri Albino, Kettle memasarkan Posh Crisps, produk keripik kentang olahan nonpremium. Chase mendapatkan informasi jika Posh Crisps dibuat dari kentang reject, dan diolah secara manual, tanpa mesin.
Berbekal informasi itu, Chase mendatangi manajemen Kettle di Inggris, dan menawarkan diri sebagai pemasok kentang. Sayang, usaha ini tak membuahkan hasil. Chase ditolak lantaran Kettle sudah punya pemasok sendiri. Tak kurang akal, dia kemudian minta diajari cara membuat keripik kentang. Lagi-lagi ditolak, dengan alasan rahasia perusahaan. Berkali-kali ditolak, Chase pun nekat terbang ke Pennsylvania dan Colorado, Amerika Serikat, untuk melongok dapur Kettle.
Berbekal resep yang dia pelajari di Amerika, Chase kemudian membangun pabrik keripik kentang di lahan pertaniannya. Agar berbeda dengan produk "crisp" alias keripik kentang khas Inggris yang tipis dan nyaris hambar, Chase membubuhkan bumbu rahasia pada produknya. Dengan label Tyrrells, seperti nama perkebunan keluarganya, keripik Chase dipasarkan dengan empat rasa yakni keju, cuka apel, cabai, dan lada hitam.
Tak dinyana, keripik Tyrrells yang dijual seharga £1 laku keras. “Tyrrells bisa menjadi sumber kas baru, dengan perolehan laba hingga 35 persen," kata Chase. Dalam delapan bulan, omzet Tyrrells mencapai US$ 2 juta dan dalam tiga tahun Chase bisa meraih US$ 10 juta (pendapatan tahunan). Pasar Tyrrells pun semakin luas, dari toko di sekitar lahan pertaniannya, hingga ke Rusia, Amerika, dan Cina.
Di tengah kesuksesan Tyrrells, ada saja ganjalan yang dialami Chase. Chase sempat terlibat sengketa dengan peretail besar, Tesco, yang dia tuduh telah memasarkan Tyrrells "di bawah tangan". Kehidupan pribadi Chase pun kurang harmonis, dan dia terpaksa bercerai dengan sang istri.
Pada April 2008, Chase akhirnya melego merek Tyrrells ke Langholm Capital, sebuah perusahaan venture capital, dengan nilai £ 40 juta (Rp 787 miliar). Setelah membagi duit itu dengan mantan istrinya, Chase meramu olahan kentang lainnya yakni minuman keras. Melalui pabrik Chase Distillery, vodka dan gin buatannya laris terjual hingga 10 ribu botol per pekan. Dengan olahan kentang reject, Chase menjadi pebisnis sukses dengan omset miliaran rupiah.
Editor : tagor
Sumber : tempo
Seperti yang dialami William Chase. Pria 56 tahun asal Herefordshire, Inggris, ini menjadi miliarder lantaran berhasil mengolah kentang "reject” menjadi penganan yang bernilai tinggi. Chase mampu mengolah kentang buruk rupa menjadi keripik yang laris hingga minuman jenis vodka yang harganya mahal.
![]() |
| ilustrasi kentang |
Namun cobaan berat datang pada 1992. Pada saat itu, hampir seluruh wilayah Inggris dilanda musim hujan lebat. Lantaran diguyur hujan setiap hari, kebun Chase rusak berat. Kentang yang dia tanam kemudian dipenuhi jamur dan mulai membusuk. Tak ayal, kerugian besar membayang di depan mata
Bangkrut dan mengasingkan diri
Lantaran gagal panen, Chase mengalami kerugian besar. Nyaris semua asetnya ludes untuk membayar utang. Di tengah situasi sulit itu, dia tak punya cara lain untuk melonggarkan diri dari jerat utang, selain mengajukan permohonan pailit. Selepas divonis bangkrut oleh pengadilan, Chase pun linglung. "Saat itu, saya merasa sangat malu," kata dia, dikutip dari BBC.
Rasa malu membawa Chase bertualang ke Australia. Di Negerui Kanguru itu, Chase berusaha mencari peruntungan baru. Sayang, nasib baik belum berpihak sehingga Chase terpaksa kembali ke Herefordshire. Lagi-lagi dia memberanikan diri meminjam uang, kali ini dari kerabatnya. Lantaran cuma kenal bisnis kentang, Chase pun kembali berkebun.
Tak mau nasib buruknya berulang, Chase mulai berpikir untuk mengembangkan usaha. Tak cuma bertani dan memanen kentang dari kebunnya, Chase kini mencoba menjadi pengepul hasil kebun beberapa petani lain dan memasarkannya ke supermarket. Tertatih-tatih dia mencoba menjadi bandar kentang amatiran dan membangun jejaring dengan peretail.
Pengalaman pahit kembali dia alami, tatkala supermarket tak mau memborong semua kentang dagangannya. Pemilik toko menolak sebagian kentang pasokan Chase lantaran kualitasnya kurang baik. Umbinya tak besar, kulitnya kurang menarik. Cokelat dan cenderung kering. Rupanya, kualitas kentang yang dia kumpulkan dari beberapa petani tak seragam. "Saya memasok 10, dikembalikan lima. Perlakuan supermarket itu sangat menyakitkan," ujarnya.
Tak dinyana, pengalaman pahit itu ternyata awal dari kesuksesan. Sehabis kecewa lantaran kentangnya ditolak supermarket, Chase putar otak. Satu waktu, pada 2002, dia membaca ekspansi bisnis Kettle Food Inc, perusahaan makanan asa; Amerika Serikat, ke Inggris. Di Negeri Albino, Kettle memasarkan Posh Crisps, produk keripik kentang olahan nonpremium. Chase mendapatkan informasi jika Posh Crisps dibuat dari kentang reject, dan diolah secara manual, tanpa mesin.
Berbekal informasi itu, Chase mendatangi manajemen Kettle di Inggris, dan menawarkan diri sebagai pemasok kentang. Sayang, usaha ini tak membuahkan hasil. Chase ditolak lantaran Kettle sudah punya pemasok sendiri. Tak kurang akal, dia kemudian minta diajari cara membuat keripik kentang. Lagi-lagi ditolak, dengan alasan rahasia perusahaan. Berkali-kali ditolak, Chase pun nekat terbang ke Pennsylvania dan Colorado, Amerika Serikat, untuk melongok dapur Kettle.
Berbekal resep yang dia pelajari di Amerika, Chase kemudian membangun pabrik keripik kentang di lahan pertaniannya. Agar berbeda dengan produk "crisp" alias keripik kentang khas Inggris yang tipis dan nyaris hambar, Chase membubuhkan bumbu rahasia pada produknya. Dengan label Tyrrells, seperti nama perkebunan keluarganya, keripik Chase dipasarkan dengan empat rasa yakni keju, cuka apel, cabai, dan lada hitam.
Tak dinyana, keripik Tyrrells yang dijual seharga £1 laku keras. “Tyrrells bisa menjadi sumber kas baru, dengan perolehan laba hingga 35 persen," kata Chase. Dalam delapan bulan, omzet Tyrrells mencapai US$ 2 juta dan dalam tiga tahun Chase bisa meraih US$ 10 juta (pendapatan tahunan). Pasar Tyrrells pun semakin luas, dari toko di sekitar lahan pertaniannya, hingga ke Rusia, Amerika, dan Cina.
Di tengah kesuksesan Tyrrells, ada saja ganjalan yang dialami Chase. Chase sempat terlibat sengketa dengan peretail besar, Tesco, yang dia tuduh telah memasarkan Tyrrells "di bawah tangan". Kehidupan pribadi Chase pun kurang harmonis, dan dia terpaksa bercerai dengan sang istri.
Pada April 2008, Chase akhirnya melego merek Tyrrells ke Langholm Capital, sebuah perusahaan venture capital, dengan nilai £ 40 juta (Rp 787 miliar). Setelah membagi duit itu dengan mantan istrinya, Chase meramu olahan kentang lainnya yakni minuman keras. Melalui pabrik Chase Distillery, vodka dan gin buatannya laris terjual hingga 10 ribu botol per pekan. Dengan olahan kentang reject, Chase menjadi pebisnis sukses dengan omset miliaran rupiah.
Editor : tagor
Sumber : tempo





Tidak ada komentar