Header Ads


Ingin Jeritan Didengarkan, Buruh Bawa Istri dan Anak ke DPRD Siantar

LINTAS PUBLIK-SIANTAR, Puluhan buruh yang dipecat managemen PT Medan Distribusindo Raya (PT MDR) mendatangi DPRD Siantar untuk mengadukan persoalan pemecatan tersebut.

Tak biasanya, puluhan buruh tersebut menyertakan anak dan istri mereka untuk bertemu langsung dengan wakil rakyat mereka,Kamis (5/11/2015).

"Kasihani kami, Bapak dan Ibu dewan. Sudah hampir dua bulan suami saya tidak kerja lagi, sementara anak dan keluarga butuh biaya untuk kelangsungan hidup," ucap salah seorang istri buruh Suryati didampingi suaminya yanh dipecat Haryono

Hal yang sama juga disampaikan buruh lainnya, Rasyid. Menurutnya, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menyampaikan keluhan kepada DPRD setelah perusahaan tempat mereka bekerja selama ini memecat buruh secara sepihak.

"Tak ada yang bisa kami andalkan, selain kami menyampaikan keluhan kami kepada perwakilan rakyat kami. Sikap dan peranan perusahaan sangat mengintervensi kami para buruh, memecat secara sepihak. Kami kira itu perbuatan tidak manusiawi," ucap Rasyid.

Ketua SBSI Siantar-Simalungun Ramlan Sinaga, yang mendampingi buruh mengatakan, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan dimediasi Dinas Tenaga Kerja Pematangsiantar namun sejauh ini belum ada solusi konkret.

Ramlan menilai PT MDR sangat otoriter dan mengabaikan aturan dalam memecat para buruh yang awalnya cuma menuntut hak mereka.

"Tak ada salah mereka, hanya menuntut hak mereka sebagai buruh agar disejahterakan sesuai dengan undang-undang perburuhan. Tidak bekerja selama dua bulan tanpa berpenghasilan tentu secara otomatis kebutuhan dapur para buruh ini sangat terganggu," ujarnya.

Itu sebabnya, lanjut Ramlan, para buruh yang mulai kebingungan, mendatangi DPRD sambil membawa anak dan istri mereka agar DPRD bisa mendengar langsung bagaimana kondisi keluarga para buruh.

Amatan www.lintaspublik.com, pertemuan dengan Komisi I yang diterima Nurlela Sikumbang,Tongam Pangaribuan  diwarnai jeritan istri buruh dan tangisan anak-anak para buruh.


Penulis      : franki
Editor        : tagor

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.