Ingat Lapangan Simarito, Surfenov Sirait Kenang Tim Black Kiwi yang Ditakuti Seantero Siantar
LINTAS PUBLIK-SIANTAR, Saat ini, hampir setiap sudut bahkan inti Kota, banyak bangunan yang berdiri. Hal itu merupakan salah satu bukti perkembangan peradaban telah terjadi dalam diri masyarakat Siantar. Sayangnya, perkembangan itu tidak diikuti bahkan terkesan lalai dalam menjaga serta melestarikan keindahan Kota itu sendiri.
“Banyak teman-teman di luar Siantar yang rindu untuk kembali dan menikmati kenyamanan, kehangatan saat berada di Siantar. Hal itu menjadi salah satu motivasi saya maju di Pilkada Siantar tahun ini,” ungkap Calon Walikota Siantar, Surfenov Sirait,Selasa (10/11/2015)
Salah satu yang masih kental dalam ingatan, kenang Surfenov, lapangan H Adam Malik itu merupakan salah satu tempat main bola kampung dan tempat bersantai semua masyarakat Siantar.
Dahulu, lapangan Adam Malik hanya diisi oleh rumput hijau yang tertata dengan rapi sehingga menarik minat pengunjung.
“Bagi saya pribadi, dulu, hampir setiap sore saya nonton ataupun bermain sepakbola di situ. Lawan kami biasanya, anak kampung Melayu, Banjar, Parluasan, Karo dan banyak daerah lainnya. Di pinggir lapangan, banyak masyarakat yang menjalani aktifitas mereka masing-masing, baik sekedar duduk di rumput ataupun bersenda gurau bersama keluarga. Semua masyarakat tumpah ruah di Lapangan H Adam Malik,” katanya sembari mengaku, sayangnya hal itu tak terlihat lagi di lapangan H Adam Malik, yang dulunya lebih dikenal sebagai lapangan Simarito.
Banyak kenangan dalam diri Surfenov Sirait tentang Lapangan H Adam Malik. Selain, sebagai sarana umum, Lapangan H Adam Malik mampu menjadi jembatan persahabatan bagi semua warga Siantar. Kenangnya lagi, dahulu tim bola yang sering menang saat bertanding disitu, dijuluki sebagai tim “Black Kiwi. Black Kiwi itu sendiri adalah sebutan kehormatan sesama pesepakbola kampung bagi tim yang mampu memenangkan pertandingan di Lapangan Haji Adam Malik.
“Ntah darimana asalnya, sebutan black kiwi itu sempat tenar dan itu digadang-gadang sebagai sebutan bagi tim parsomir (tukang semir). Memang, mereka (tim parsomir) sempat ditakuti saat main bola di lapangan Adam Malik,” kenangnya. Selain mahir bermain sepakbola, tambah Surfenov, mereka (Tim Black Kiwi) dikenal memiliki stamina yang kuat dan kekompakan saat berada di dalam maupun diluar lapangan.
“Mereka gak mau “ceng” main bola sebelum maghrib. Dalam sehari, mereka mampu melawan 2-3 tim. Bayangin aja gimana nafas mereka,” katanya.
Sayangnya, saat ini aktifitas masyarakat Siantar di Lapangan H Adam Malik semakin tak terlihat. Disinyalir hal itu karena kondisi lapangan H Adam Malik, terlebih pembangunan di Kota Siantar seakan tak mencerminkan apa yang menjadi kehendak masyarakat itu sendiri, yakni hidup dalam kebersamaan. Berangkat dari sedikit kenangan tersebut, kata Surfenov, secara pribadi, ingin mengembalikan wajah kota Siantar menjadi kota yang Nyaman dan Bersahaja bagi semua lapisan masyarakat.
“Saya gak muluk-muluk, pembangunan yang saya tawarkan untuk lapangan Adam Malik, dimulai dari hal-hal kecil seperti, membangun alun-alun Siantar, untuk mengembalikan wajah Kota Siantar yang asri dan nyaman untuk dihuni semua masyarakat,” katanya.
Penulis : franki / rel Editor : tagor
Penulis : franki / rel Editor : tagor




Tidak ada komentar